I made this widget at MyFlashFetish.com.

Sabtu, 13 Agustus 2011

Another Memory : Other lights are shinning on me


August 2011
Another Memory : Other lights are shinning on me


Ketika matahari yang selalu menemani hari-hariku dengan sinarnya mulai meredup dan menghilang, kini muncul banyak matahari baru yang mampu menyingkirkan awan mendung dan mengiringi jalanku dengan cahayanya….

***
Secarik kalimat yang akhirnya mampu membius gw dalam ketenangan.

Sebelumnya, thanks buat sahabat2 gw yang udah ngasih banyak support buat gw dikala gw lagi sedikit konslet akibat kepergian orang yang gw sayangi. Kepergian yang begitu mendadak yang masih menyisakan sebuah Tanya.

 Kenapa ?


“Ikhlasin aja, gak usah banyak mengandai, serahin semua sama Allah,”

“Allah masih nyembunyiin orang yang tepat buat lu,”

“Dia yang milih jalan itu, gak ada pilihan laen,,, kalo dipikirin Cuma makan waktu ama ati….”

“Jangan terlalu meratapi satu pintu kegagalan, karena banyak pintu keberhasilan di sisi lain yang masih terbuka untuk lu jalani,”


Dan banyak lagi support yang datang dari semua orang2 istimewa yang gw kenal.

Memang, kehilangan seseorang yang kita sayangi selalu menyakitkan. Seperti yang gw rasain sekarang. Baru kali ini, gw ngerasa, kehilangan seseorang yang gw sayangi merupakan hal yang paling menyakitkan. Sangat sakit. Terlebih, dirinya pergi dengan menyisakan sedikit rasa kecewa. Rasa yang udah lama hilang dari hidup gw, dan sekarang kembali hadir.

She's like a song

Mungkin ini adalah teguran buat diri gw, dimana gw udah mulai melupakan sedikit keceriaan di masa lalu, keceriaan yang selalu gw buat dengan banyaknya senyum yang keluar dari raut wajah mereka, orang2 spesial. Tetapi dengan kehadirannya, waktu gw mulai terbagi. Dan cinta selalu menang.

Buat gw, life goes on. Hidup jalan terus, gak perlu menyesali apa yang udah terjadi. Apalagi penyesalan yang datang diiringi dengan perubahan2 sifat dari dalam diri kita. Menjadi Kecewa adalah wajar, selama rasa kecewa yang kita alami, mampu dikendalikan oleh pikiran sadar kita.

Mungkin, dengan sedikit naïf, gw bisa bilang :

“gak perlu dipikirin, masih banyak urusan lain yang lebih pelik,”,

Tapi, hati emang gak bisa dibohongi, sedikit sayatan yang membekas gak akan bisa mudah diobati. It’ll take a long time. Selembar kertas putih akan butuh waktu lama untuk menjadi selembar kertas putih kembali, apabila sudah terlanjur tergores oleh tinta hitam. Begitu juga hati gw. Tapi, kekecewaan ini gak akan larut menyelimuti diri gw. Gw lebih suka rasa kecewa gw dijadikan hal positif yang mungkin akan lebih bermanfaat kelak. Dan gw sangat menikmati rasa kecewa gw.

Gw nyadar, ini adalah jalan gw menuju silaturahmi yang lebih luas. Silaturahmi gw dengan semua orang – orang yang selalu ada di belakang gw dengan iringan do’a - yang sempat  gw lupakan.

Cahaya gw sedikit meredup. Kalah oleh hembusan awan hitam yang gemar menyelimuti pikiran. Sampai saat ini, pikiran gw masih terganggu oleh kenangan yang ada, kekecewaan yang udah gw sembunyikan dibalik senyum gw masih gak bisa menipu sahabat2 gw yang tulus.

“Belakangan ini lu murung, ada apa sih ? fokus dong,,,”
“gw bingung apa avril lavigne mau nerima gw ya gan ?”

“Tar lama2 lu bisa gila beneran nih,”
“Gapapa selama Zooey Deschannel masih nerima gw,”

“Lu tuh kayaknya bener2 mulai gila ya ?”
“Hah ? masa sih ?”

Kepergian seseorang yang gw sayangi, gak akan bisa merubah gw jadi seseorang yang berbeda. Gw adalah diri gw, dan kehilangan dirinya memang merupakan sesuatu kekecewaan yang mendalam. She’s like a song that always comes around in my head. Ya, bayangan tentang dirinya sulit untuk dihapus, sekalipun dengan berusaha membencinya. Tapi, kebencian bukanlah jawaban, dan sesakit apapun itu, gw tetep sayang sama apa yang pernah menjadi bagian dari masa lalu gw. Dirinya memang seperti sebuah lagu, yang selalu gw putar di dalam pikiran gw, disaat sepi.

Biarlah dia pergi dengan cahayanya. Dan biarlah gw berlalu dengan cahaya yang lain. Cahaya fana yang bisa menuntun gw menuju kedewasaan, dan mencari arti hidup yang sebenarnya. 

Akan tetapi, hati gw akan selalu terbuka untuknya, sekalipun masih diliputi rasa luka.

Dan tanpa gw sadari, dibalik itu semua, sebenarnya banyak cahaya lain yang diam-diam tetap setia menyinari jalan gw, cahaya yang kekuatannya lebih besar ketimbang cahaya fana yang selama 2 tahun ini menyinari hidup gw,

Ya, cahaya itu datang dari mereka, para sahabat. Thanks all, you’re so precious to me.

Minggu, 07 Agustus 2011

Another memory : Our smiles separated us


31 Mei 2009 – 4 Juni 2011
Another memory : Our smiles separated us


Temen gw pernah berujar, yang paling bikin males dari memulai sebuah hubungan adalah : memulai segalanya dari awal :  mengenal dirinya, memperkenalkan diri kita kepadanya –dengan berbagai cara tentunya- mencari tau apa kesamaan dari itu semua, dan mulai membangun sebuah hubungan dari point tersebut. Sebuah kesamaan.

Hal ini gw alamin. Dan hal ini merupakan bagian dari sejarah gw yang lain.

Menelisik 2 tahun kebelakang. Dimana gw mulai membangun suatu hubungan yang gak pernah disengaja. Gak pernah gw rencanakan, dan gw sendiri gak pernah yakin akan berlanjut sedemikian dekat.

Berawal dari kampus (lagi-lagi), seorang gadis yang lagi kebingungan, karena gak tau alamat kantor tempatnya interview kerja besok. Di sana, Gak sengaja ada gw (mungkin ini yang dinamakan takdir) yang emang lagi ada perlu ama temennya waktu itu. Dan gw coba nawarin diri buat menjadi GPSnya besok, karena kebetulan alamatnya searah sama kantor gw. Dan dari situ semua berawal.

“Bagaimana interviewnya ?”
“Alhamdulillah diterima kak, makasih ya do’anya,”

Aku dan dirinya

Selanjutnya, gw mulai membangun hubungan. Dan semua dimulai dari persamaan. Jutaan kata keluar dari pikiran kita, mulai dari yang penting, gak penting, atau hanya sekedar lelucon. Itu semua kita pakai, hanya sekedar untuk mencari kesamaan.

Hal yang bisa gw gunakan sebagai tiket terusan untuk tetap menjalin hubungan dengan dirinya.

Hari berganti, gw mulai menemukannya. Kesamaan yang kita cari2. Sama2 suka berusaha membuat diri kita tersenyum, apapun keadaannya. Kita adalah penyuka lelucon, semakin banyak lelucon yang keluar dari kata2 kita, semakin kita tersenyum satu sama lain. Senyumnya yang sampai sekarang gak pernah bisa hilang dari ingatan gw.

“Kenapa sih kamu gak pernah mau marah ma aku ?”
“Karena aku gak punya alasan untuk marah ma kamu,”
“yaudah aku tonjok aja ya,”
“percuma, kamu gak bakal liat aku marah, karena mata kamu udah keburu lebam dan gak bisa liat lagi,”

Banyak lelucon bukan berarti kita lupa akan hal yang serius. Suatu ketika, ia pernah menangis untuk ayahnya. Dan hal terburuk yang pernah gw rasain waktu itu adalah, membiarkannya larut dalam tangisnya. And she did the same for her mom. Dikala serius, dirinya seperti menjadi seorang yang berbeda. So different. Gak ada lekukan senyum di pipinya. Hanya rautan alis wajah yang menukik tajam.

“Aku takut kamu pergi, dan aku juga takut kalau aku nyakitin kamu,”
“Apa kamu serius sama hubungan kita ?”
“Ya. Aku serius,”

Semua itu ada dan nyata dalam 2 tahun kenangan gw bersamanya. Dirinya banyak memberikan warna dalam hidup gw. Jutaan senyuman terukir, dan ribuan perbedaan hilang dengan hadirnya satu kesamaan dalam diri kita. Berusaha membuat diri kita tersenyum, apapun keadaannya.

Sampai akhirnya senyuman itu kian memudar, dan akhirnya benar2 hilang. Hilang selamanya dari hidup gw.

And I still don’t know why.

Broken smiles

Kamis, 21 Juli 2011

Blunder is our lives...........

Blunder
21 Juli 2011
Hmm.....nobody’s perfect…

Mungkin ini adalah tema favorit gw dari segala tema selama ini yang pernah gw bikin di blog ini, di majalah dinding (rumah), di selembar tissue, ato di mading kantor2 RT.

Tiap orang emang udah ditakdirkan memiliki kelebihan, dan juga kekurangan. Setiap orang juga berhak menentukan nasibnya sendiri. Berusaha menggapai yang terbaik dalam hidup dengan lebih menggali kelebihan dan meminimalisir kekurangan.

Tapi, hidup gak selalu berjalan mulus. Ada kalanya, nasib baik berpihak kepada kita, dan ada kalanya pula, kesalahan gemar menghiasi jalan hidup yang kita coba arungi. Dalam hidup gw, kesalahan merupakan teman hidup yang gak selamanya terus gw hindari. Kesalahan, kekeliruan dan kekhilafan udah jadi kayak teman sarapan di pagi hari. Mungkin, perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan kedekatan gw dengan kesalahan adalah : bagai laler dan borok. Selalu erat, selalu lekat.

Calon Presiden 4 taun aja

Dalam dunia seni perfilman, banyak adegan2 salah yang suka dibuat oleh pada aktornya. Kesalahan2 itu biasa disebut bloopers. Dalam sepakbola juga demikian.banyak kesalahan2 fatal yang dilakukan oleh pemain, walaupun tingkat profesionalitasnya tinggi. Biasanya disebut blunder.  Begitu juga dengan lingkungan kerja gw, gemar menyebut sebuah kesalahan sebagai : BLUNDER.

Foto Blunder....ada gw juga pula....
Semenjak gw mulai merintis kehidupan baru di kantor, banyak kesalahan2 yang pernah dilakuin, baik itu oleh gw, temen2 se-departemen, atau bahkan temen2 dari departemen lain. Kami biasa menyebutnya blunder ato bloopers. Mungkin, kalau ditebitkan dalam bentuk buku, ceritanya akan lebih panjang dari serial dukun ABG, harry potter.

Dengan kesalahan2 yang pernah kami buat ini, justru suasana di kantor jadi lebih hidup, gak ngebosenin dan bahkan makin ceria dengan banyaknya blunder2 bertebaran di tiap departemen. Selain dialog absurd yang gak pernah ada abisnya, kadang tingkah yang kita buat pun suka menjadi topik yang patut diperbincangkan di waktu istirahat, dan kadang, kombinasi dari keduanya (blunder dengan dialog absurd) gak kalah menariknya untuk diceritakan kembali kepada cucu2 kami di masa mendatang.

Gak selamanya kesalahan itu adalah sesuatu yang buruk. Dan gak selamanya pula kesalahan membawa kita pada kehinaan, mengundang cacian ataupun penilaian negatif dari orang lain. Kadang, kesalahan merupakan suatu hal yang sangat ditunggu2.

Ya…seenggaknya, seperti itulah yang terjadi di departemen gw.

Calon penguasa bawah tanah (gantiin cacing)

Percayalah, blunder2 seperti ini jarang ditemukan di kondisi normal, kejadian ini nyata, dan Cuma ada di lingkungan kerja gw. Let's see....

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sepatu
Hasan              : Pak, sepatu safety yang bapak kasih koq begini ? gak bisa dipake nih.
Eman               : Lho koq bisa ? kan udah dikasih yang bagus kemaren.
Hasan              : Iya pak, tapi yang bapak kasih kiri dua2nya.
Eman               : …………..


Kunci Sepeda
Sepanjang perjalanan pulang dari tasikmalaya.
Bengki             : Yo, lu bener mau turun di kantor aja ? kalo gitu kita keluar tol dulu, nurunin elu di kantor, trus kita lanjut ampe Jakarta. Gapapa sendiri ?
Yoyo                : gak papa, gw kan ninggalin sepeda di kantor. Aman koq. Udah gw gembok.
Bengki             :oh oke deh.
Sesampainya di kantor. Gw turun dari mobil, dan gak lama kemudian balik lagi.
Bengki             : kenapa lu balik lagi ?
Yoyo                : gw lupa, kuncinya di rumah….


Holland Bakery
Bu Tari            : Man, di ruang konferensi ada safety meeting, tolong konfirmasi snacknya ke holland…gw udah pesen kemarin,,,
Belom juga selesai bu tari ngomong, si herman langsung telpon.
Herman           : halo…halo,,,ah ini holand bakery ? iya saya herman dari PT.XXX. Holland bakery pesenan kita yang 30 box udah jadi belom ya ? hah ? belom ? yang bu tari…..iya bu tari dari PT.XXX.
Yang ditelpon  : Maaf bapak, disini belum ada orderan atas nama itu.
Herman           : hah ? yang bener bu ? aduh gimana nih……(langsung manggil bu tari) bu, koq kata Holland bakerynya belom pesen ?
Bu tari             : Holland bakery mana yang lu telpon ?
Herman           : Holland bakery bekasi bu…
Bu Tari            :Man, kita kan di Cikarang,,,,,ngapain gw ngorder ke bekasi jauh-jauh….gak sekalian aja ke karawang…
Herman           : oh iya ya…


Kiriman Paket
Tut tat tut tut tut tat tut tat tut (ceritanya bunyi telpon)
Bams               :  halo JNE,,,,pak, kirim dokumen ya diambil kayak biasa……hah ? salah sambung ? emang ini apa ? oohh…makasih….
Mau tau siapa yang ditelpon ? hmmm…Rumah Sakit Prodia.


Sepatu (2)
Di Musholla suatu sore, setelah sholat ashar. Bersiap pakai sepatu, sambil berbincang ringan.
Dika                 : eh iya, ini bla bla bla……(serius  ngobrol sambil iket tali sepatu)
Heri                 : oh gitu dik….tapi ngomong2, kenapa sepatu gw yang lu pake ?
Dika                 : Ya ampun…..pantes gak enak rasanya…duh salah…
Heri                 : padahal kaos kaki aja udah beda, koq bisa ampe selesai gitu baru berasa…..


Artis
Bu Tari            : Leo, kemaren gw liat ni artis dong…..
Leo                  : wuuih yang bener bu…hebat bisa liat langsung…emang ketemu di mana ?
Bu Tari            : di Tipi


Nomor Telepon
Pak Direktur    : ansah, kemaren pak trian yang business trip ke vietnam dikasih hape kantor yang mana ?
Ansah              : oh, yang nomernya 0812xxxx.
Pak Direktur    : oke makasih. [gak lama kemudian langsung nelpon], halo pak trian, lagi dimana posisi ? hah ? papua nugini ? bukannya ke Vietnam ? lho koq ? ini paka yusuf ? oh sori pak…
Ansah              : wah salah pak, itu nomor pak yusuf yang ke papua nugini…….


Proposal
Tsubasa-san    : Awan san, come here…please explain this mattah….
Awan               : this is a pen blab la (ceritanya lagi explain, Cuma gw gak tau bahasa apa yang dipake)
Tsubasa-san    :this is nonsense ya. You lie to me ya awan san !
Awan               : Yes I lie to you ya…..
Tsubasa-san    : …………


Kunci (2)
Leo                  : Bu, pinjem kunci lemari arsip dong…mau ambil file nih…
Bu Tari            : ada, tuh ambil aja di meja….
Sesaat kemudian,
Leo                  : bu, koq gak kebuka sih ??? wah udah rusak kayaknya ni lobang kuncinya….
Bu Tari            : rusak ? mana coba liat……….hmmm, pantes aja….itu kunci loker gw yang lu colok….


Internet
Mitsui-san       : Willy-san….hmmm….ano,,,my Internet in apartment wasn’t connected by yesterday. do you know what’s the problem ? now I can’t make my connection to Japan.
Willy                : oh, OK I will check to provider.
And a few minutes later,
Willy                : Mitsui-san, I think I know what’s the problem. You have to pay your bill ya….that’s what the provider said to me. It’s been three months since you have paid nothing.


AC
Hasan              : Halo, bisa dengan bu caroline ?
Yang ditelpon  : Bu caroline ? wah kebetulan sudah resign pak.
Hasan              : Hah ? resign ? penggantinya deh….
Yang ditelpon  : Kalau boleh tau bapak siapa ya ?
Hasan              : Saya dari PT.XXX. loh ini PT AC abadi service kan ? bu caroline yang handle service AC kan ?
Yang ditelpon  : Maaf pak, Ini PT Sendal Makmur, bu Caroline itu Sekretariat Direktur….


Proposal Golf

Herman           : Yo, proposal golf yang kemaren mana ? gw mau file nih.
Yoyo                : lah kan dipegang pak dodi.
Pak Dodi          : lah kan gw kasih elu man tadi.
Herman           : lah kan udah saya masukin ordner di lemari itu, Eh……iya…
Yoyo                : ya itu jawabannya. Case closed. Cape deh…..


Loker ato ID Card

Pak Abud         : benk, yang kemaren udah ato………….[lagi2 belum selesai ngomong, udah disamber]
Bengki             : oh udah pak, semua loker produksi udah saya list, udah rapih, ada label namanya juga,,pokoknya udah rapih deh….
Pak Abud         : emangnya aku mau ngomong apa benk ?
Bengki             : loker kan pak ?
Pak Abud         : aku tuh mau nanya itu ID card karyawan gimana udah 2 bulan gak dibuat2…..


[bersambung]

Senin, 11 Juli 2011

Menjadi Pribadi Pemberontak

12 Juli 2011
Dikala pemikiran yang kritis diperlukan

Menjadi manusia dengan sifat kayak gini menurut gw bukan suatu hal buruk yang perlu dihindari. Terkadang, menjadi seorang dengan jiwa pemberontak, dan juga kritis, merupakan suatu pilihan yang kadang dibutuhkan. Pemberontak identik dengan perbedaan, dan perbedaan merupakan hal yang konkret dalam hidup, yang gak perlu dianggap aneh. Perbedaan membawa kita pada keanekaragaman. Masalahnya adalah, apakah sifat pemberontak yang seperti ini akan bisa dibawa menuju hal2 yang positif, atau sebaliknya, menjerumuskan kita ke hal2 yang negatif.

Memiliki opini, kebiasaan, atau jalan pemikiran yang berbeda dengan orang lain disekitarnya, merupakan hak seseorang yang gak bisa seorangpun menentangnya. Memiliki caranya sendiri dalam menganalisa sesuatu, tanpa harus mengikuti paradigma kuno yang sudah tertanam dalam budaya dan kebiasaan di masyarakat.

Ada kalanya, kita harus kritis dalam menghadapi sesuatu. Gak melulu gampang mencerna sesuatu. Sifat kritis bisa membawa kita pada pemikiran yang inovatif, kreatif dan lebih analitis. Selalu ingin mengetahui apa alasan kenapa ia berbuat sesuatu.

Berfikir skeptis hanya akan membuat alur hidup menjadi stagnan, dan tidak akan pernah ada perubahan yang berarti dalam hidup.

Sifat kritis dan berjiwa pemberontak kayak gini masih gw miliki. Dan gw tetep pelihara sampai saat ini.

Sifat yang udah terlihat dari waktu gw masih dalam kandungan. Kadang2, sifat gw yang kayak gini diarahkan ke hal2 negatif.

Dulu, waktu baru berumur 7 bulan di kandungan aja, gw udah minta keluar dari perut emak gw.

“sabar dul, tinggal 2 bulan lagi lu gw rilis ke dunia,”  kata emak gw sambil nepuk2 hamilnya. (Kena kepala alit ma…sakit nih dijitak mulu)

Gak mau sabar, gw pun suka berontak, suka nendang2. Kadang direspon emak gw pake jurus jitakan perut.

Ngomong2 soal berontak, Jadi inget gimana dulu SD, kabur gara2 mau disuntik, walau akhirnya nyerah juga, daripada dijitak pak guru. Gw gak mau disuntik pun bukan tanpa alasan. Gak adanya penjelasan mengenai kenapa kita harus disuntik, dan kenapa tidak ada pengumumannya, membuat gw ragu dan lebih memilih menolak. Siapa yang tau kalau itu bukan suntik rabies ?

Selain itu, gw lebih pilih cabut pelajaran tambahan dan asik main game di belakang sekolah, ketimbang duduk dan mempelajari pelajaran yang sama, dengan guru yang sama dan gaya mengajar yang sama pula. Alasannya, buat apa 5 jam gw duduk di kelas, sampe ngantuk2, peres pikiran, tapi hal itu diulang di jam selesai belajar, dengan guru & cara yang sama ? no thanks. Kalau dengan guru atau gaya mengajar yang berbeda, mungkin lebih memiliki variasi, suasana baru dan menghindari kejenuhan, sehingga ilmu yang didapat pun akan masuk ke otak.

Jadi inget juga waktu itu, gw memilih mengerjakan rumus matematika dengan cara yang simple, singkat dan tepat, mirip yang suka diajarin banyak lembaga kursus swasta, dan jawabannya benar. Walau begitu, cara yang gw kerjain bukan kayak yang diajarin bu guru di sekolah, cara ini gw dapet dari kakak gw yang emang ahli matematika, mungkin Cuma gw satu2nya anak SD yang pakai rumus high tech gini .

Bagaimana hasilnya ?

Jawaban gw dianggap salah, hanya karena caranya beda ama yang diajarin di sekolah.

Ngomong2 soal les, Les yang diadain guru sekolah gw dulu di rumahnya, menurut gw merupakan cara yang sedikit curang untuk bisa mendapat nilai bagus di kelas. Bayangkan aja, ikut les berarti bayar, it means, Cuma yang mampu yang bisa. Bagaimana dengan temen2 gw yang gak bisa ? itu berarti, mereka hanya mendapatkan pendidikan reguler yang hanya terjadi di kelas. 

Faktanya adalah, pelajaran yang diajarkan pada saat les, akan dikemas untuk lebih mudah dimengerti ketimbang yang diajarkan di kelas. Sang guru mengajarkan banyak cara praktis untuk menyelesaikan soal2 yang nantinya akan diajarkan di sekolah, tapi cara tersebut gak pernah diajarkan waktu di sekolah. Jelas aja, yang ikut les udah pasti bisa jawab, dan yang gak ikut akan jadi sapi gagu. Heran melihat temen2nya bisa dengan mudah mengerjakan soal.

Kenapa bisa gak adil begitu ? ini sih sama aja kayak siswa yang nantinya mau ujian, sehari sebelumnya udah dikasih jawabannya oleh si guru.

Apakah para guru lebih suka menyimpan sebagian ilmunya untuk dijadikan bisnis sampingan ? dan hanya mengeluarkan sebagian untuk diajarkan di sekolah ? upps….bukannya bermaksud buruk, tapi cobalah lebih mendalami apa arti guru buat murid2nya.

Setiap siswa berhak mendapatkan ilmu, dan ilmu yang mereka dapat hanya sebagian. Untuk apa datang ke sekolah, kalau dengan les aja udah pinter duluan ?

Dari kecil gw selalu berpegang, kalau gw dateng ke sekolah, semata-mata bukan buat cari nilai. Nilai gak penting di mata gw. Akan sia2 umur gw di sekolah, apabila lulus nanti gak dapet ilmu apa2. Dan les dengan guru merupakan cara instan mendapatkan nilai bagus, yang menurut gw gak adil untuk siswa lain. Dan gw yakin, ilmu yang instan, akan hilang dengan cara yang instan pula. Sama seperti mencontek.

Gw lebih suka dengan ide : les dengan pengajar privat yang bukan guru sekolah yang mengajar kita di kelas, atau minta diajarkan orang tua atau kakak. Lebih fair.

Karena dengan begini, jatah ilmu yang didapet dari guru sekolah akan sama takarannya untuk semua siswa, tanpa ada yang pinter duluan. Pinter disini maksudnya adalah : tau jawaban dari soal yang akan diberikan.

Jadi inget gimana dulu waktu gw kuliah, debat kusir di kelas, hanya karena gw bermaksud membetulkan statement dosen gw yang salah mengenai akuntansi. Dosen gw satu ini emang kalo ngomong tinggi banget, dan gak mau nerima koreksi dari siswanya, karena dia ngerasa dosen dan dosen selalu benar, dan gw (dibantuin temen2 laen juga malah) tetep kekeuh kalo ni dosen keliru, dan akhirnya dia nantang gw buat bawa buku sumber alasan kenapa gw berani ngoreksi kesalahan dia. Besoknya, setelah gw bawa buku sumbernya, dia gak pernah ungkit2 lagi.

Pernah waktu anak didiknya dateng telat ke kelas, dia dengan lantang bilang gini :

“saya ini manager HRD, jadi harusnya kamu yang nunggu saya ! bukan saya nunggu kamu,”

Hello…..use your brain wisely Mister…. Lu itu manajer HRD di kantor sana, tapi di kampus, elu dosen dan kami mahasiswa. It means, kami gak masuk pun it’s not your fuckin’ problem. Just give us “E”. gak usah nyombongin diri yang malah bikin mahasiswanya jadi unrespect.

Oh ya, btw, Di akhir semester itu, nilai gw jadi C-. padahal, semester sebelumnya, nilai gw selalu A. but nevermind, not such an important.

Di kampus gw juga ada sistem practice English conversation dengan cara menghafal text dengan metode karangan bebas, dengan gaya story telling. Menurut gw, cara kayak gitu gak akan efektif, karena yang bakal terjadi adalah, mahasiswa hanya akan menghafal text hasil salinan dari temen yang paling jago, tanpa memahami isi yang dipresentasikan kepada dosennya. Dan setelah survey, mayoritas mengiyakan demikian.

Waktu itu, gw lebih suka milih : gak mengerjakan textnya, dan mengucapkan apa yang ada di pikiran gw. Imajinasi gw akan lebih berkembang dan latihan berdialog pun lebih mengena, apabila ada pertanyaan yang dilontarkan si pembimbing.

Jadi inget waktu SMA dulu, jaman plonco anak baru.setiap anak baru yang baru bergabung, diwajibkan meminta tanda tangan seniornya, minimum 50 tanda tangan. Dan lagi2, gw menolaknya. Kali ini dengan alasan, gak akan ada manfaatnya selain anak baru itu bakal terlihat bodoh di depan seniornya, mengemis minta tanda tangan, terlebih kalau seniornya jual mahal. Dan hal ini, diamini oleh sang ketua osis itu sendiri, setelah gw ngobrol singkat di waktu siang. Apa yang mereka kerjain gak akan berguna. Dan gw pun [sekali lagi] gak mengerjakannya.

Selain itu, makan2 makanan yang gak lazim pun diterapkan di jaman ploncoan SMA gw. Gw Cuma bisa bilang : “damn…who do you think you are….”. dan gw pun tetep makan makanan yang lazim tanpa harus takut hukumannya kalau ketauan. Alasan kebersamaan yang diterapkan disini buat gw cuma omong kosong, karena kebersamaan yang hakiki gak bisa dibentuk dalam hitungan hari. Dan kebersamaan gak perlu dibentuk dengan makan makanan yang aneh. Kebersamaan bisa dibangun dengan hal yang wajar.

Menjadi seseorang dengan berpikir kritis dan berjiwa pemberontak (selama jiwa tersebut diarahkan dalam hal yang positif), akan lebih mudah membawa perubahan di dalam kehidupan dimana terjadi banyak penyimpangan yang sudah mengakar, dan banyaknya ketidaktauan sosial. Dan menjadi seseorang yang berpikir kritis juga sudah pasti akan mendapat banyak penolakan dari mayoritas kaum skeptic, yang hidup dalam paradigma monoton, yang gak menyetujui adanya perbedaan. Mungkin alasan ini [hidup tanpa berfikir kritis] juga yang membuat orang mudah diputarbalikkan keyakinannya akan sesuatu.

Mulai sekarang, cobalah menjadi pribadi yang kritis. Dan gw kritis hanya pada hal2 yang gak penting aja.